“Dengan kekuatan bulan, akan menghukummu…”
Masih ingat jelas tu jargon dari Usagi alias Sailormoon ketika ngelawan musuh-musuhnya…
Sekarang, nggak tau kenapa, tergila-gila lagi sama tu film… Hm, sampe sekarang pun aku masih seneng kalo liat tu gambar. Rasanya kayak diseret ke masa 10 tahun lalu, pas sailormoon masih ditayangin di TV. Beneran deh, uhuy banget tuh film, apalagi Serenity queen-nya. Aduh, cantik banget… Huhuhu, jd pengen nonton lagi…

Sailormoon
September 14, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar
→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized
Slgohimo, Eksotis Namun Mistis
Juni 21, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar
Praktikum Sosiologi Pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 2009, dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 2009 dan bertempat di Kecamatan Slogohimo, Wonogiri. Sebuah Kabupaten yang terletak di eks karesidenan Surakarta ini mempunyai misteri tersendiri yang, wow, eksotis… Perjalanan dimulai dari kampus tercinta pukul 7.30 WIB naik bus Langsung Jaya. Hanya dengan 2 jam perjalanan, kami telah melewati lintasan yang beragam, mulai dari jalan lurus, tikungan di mana-mana, muter-muter, naik turun. Yah, maklum, lokasi yang akan kami tuju termasuk di daerah dataran tinggi dan medan yang cukup sulit. Setelah nyampe Kantor Kecamatan, 200an praktikan diterima dengan baik melalui upacara penyambutan oleh pak Camat. Usai penyambutan, kami dilepas di 17 desa di Kecamatan tersebut. Pembagiannya adalah, 1 desa ada 3 kelompok praktikan, 1 kelompok terdiri dari 5-6 orang. Kelompokku kebagian tempat Desa Soco yang letaknya nggak begitu jauh dari kantor kecamatan. Kami diantar dengan sebuah mobil yang disewa khusus untuk mengantar praktikan ke desa yang bersangkutan. Nah, berhubung 1 desa ada 3 kelompok praktikan, maka atas kebijakan Sekdes Soco, kami ditempatkan di 3 dusun berbeda. Kelompokku yang terdiri dari aku, Anggun, Rani, Kiki, Mukhlas, sama Agus diturunkan di dusun Nusupan. Sesampai di sana, kami disambut oleh pak Kadus dan istrinya yang keduanya masih muda. Kami dipersilahkan masuk, duduk dan istirahat sejenak. Pak Kadus bilang “Maap ya Mas, Mbak, nanti nginepnya nggak di sini karena rumah ini sempit. Nanti saya bersihkan dulu rumah saya. Itu rumah baru, masih kosong, belum ada apa-apanya. Tapi dulu pernah ditempati.” Wuah, tinggal di rumah kosong? Ih, wow.. Tapi aku nyoba positif thinking. Malam harinya, setelah tu rumah selesai dibersihin, kami ber-6 langsung diboyong ke situ. Kami cuma diberi kunci rumah saja. Begitu masuk tu rumah, kami langsung berkeliling. Bentuk rumah itu sih udah modern, atap juga bukan eternit lagi, tapi dari cor-coran semen. Dari luar, rumah itu penuh dengan pintu dan jendela yang kacanya tembus dari luar, jadi jika kita melakukan aktivitas apapun di dalam rumah, bisa langsung kelihatan dari luar. Rumah itu terletak di pinggir jalan utama yang menghubungkan antara desa satu dengan desa lainnya. Bagian dalam rumah itu hanya ada 1 ruang utama yang langsung kelihatan dari luar tadi. Agak masuk, ada tangga bawah tanah, jika lurus lalu belok kiri adalah kamar tidur utama. Ruang ini agak besar, dan begitu aku masuk ke situ langsung kerasa hawa nggak enak menyergap. Dan rupanya bukan cuma aku yang ngerasa demikian. Langsung kutepis pikiran-pikiran aneh yang melayang-layang. Kami naik lagi lalu turun lagi ke tangga di seberangnya. Di situ juga ada kamar, tapi nggak begitu besar. Di samping kamar ada dapur dan kamar mandi. Di samping dapur, adalah gudang. Mukhlas mencoba membuka pintu gudang, dan Whuss, hawa nggak enak menyapaku lagi. Tubuhku hilang keseimbangan sesaat. Dalam gudang itu ada tubuh reog, tapi udah nggak ada kepalanya. Tiba-tiba Kiki menjerit dari dalam kamar utama. Kami langsung bergegas menuju ke sana. “Kenapa Ki?” Tanya Agus. “Aku nggak mau tidur di sini, aku takut…” “Kenapa?” Tanyaku lagi. “Itu ada lubang” Jawabnya sambil menunjuk pojok kamar. Aku berjalan ke arah yang ditunjukkan Kiki. Tubuhku agak limbung lagi, namun masih bisa kutahan. Lubang itu berbentuk persegi dan tingginya seperutku. Bagian dalamnya seperti lorong yang berada di bawah tangga dan mengubungkan tangga satu dengan yang lain, namun pada bagian ujungnya juga tertutup, jadi hanya satu arah saja. Aku memperhatikan sekilas lubang itu terbuat dengan plesteran yang rapi seperti sudah direncanakan sebelumnya. Di sekitar lubang itu ada bercak-bercak noda, namun entah noda apa itu aku belum tau. Karena hawa rumah itu tidak bersahabat, dan kayaknya nggak cuma aku aja yang ngrasain hawa-hawa mrinding itu, maka si Agus berinisiatif ngajak doa bersama agar kami dilindungi oleh Allah. Tapi karena uda terlanjur serem, yah kamar itu nggak ada yang nempatin. Kasur yang ada di kamar itu dipindah ke kamar satunya buat tidur cewek-cewek. Sementara cowoknya tidur di ruang utama. Malam pertama nggak ada apa-apa. Esoknya, kami mulai berangkat mencari responden dari rumah ke rumah. Aku bergerak bersama Anggun. Sampai di salah satu rumah responden, kami ditanya “Kalian tidur di mana?” “Di rumah pak Kadus.” Jawabku. “Rumah pak Kadus? Emang muat?” Tanya bapaknya. “Oh, bukan pak, yang rumah kosong itu..” Jawab Anggun. Bapak itu terlihat kaget. “Kalian berani tinggal di situ? Dulu saya pernah tinggal di situ, tapi hanya semalem, soalnya saya nggak betah. Rumah itu serem lho dek.. Pak Kadus itu kan dulu pemain reog.” Bapak itu memperingatkan. Aku sama Anggun cuma tersenyum nggak jelas. Setelah kami rasa wawancara cukup, kami minta diri, pamitan. Malam harinya, kami tidur dengan posisi yang sama kaya kemaren malam. Cuma malam ini pada nggak bisa tidur. Bukan gara-gara cerita respondenku tadi siang, tapi gara-gara denger ngoroknya temenku. Kami cekikikan nggak jelas. Aku ngrasa udah ngantuk lalu aku tidur. Esok harinya, kami jalan-jalan menikmati hari teakhir di situ denganjalan-jalan ke sawah tersering. Subhanallah, indah banget, seger banget. Uh, tapi sayang, pas aku jalan, aku kepleset jatuh ke sawah. Hugz.. Puas jalan-jalan, kami pulang ke rumah itu, siap-siap, trus pamitan sama Pak Kadus, foto-foto, dan usailah praktikum yang melelahkan. Sampai di kantor Kecamatan, kami sempet kumpul bentar buat evaluasi. Di situ, Anggun baru ngaku kalo dia semalem “Liat”. Nggak taunya, si Agus juga melihat hal yang sama. “Dia” jalan dari arah gudang ke kamar utama dengan wujud bayangan putih cewek berambut panjang. Oh, apa boleh dikata, tempat itu emang eksotis namun menyimpan sejuta misteri.
→ Tinggalkan KomentarKategori: Rak Cethooo
And the Winner Is…
April 7, 2009 · 1 Komentar
Tadi pagi, berangkat kuliah penuh semangat sambil nenteng adikku. Saking semangatnya, sampe lupa kalo si Tisya masih nempel di kosan Nenek (Anggun). Yah, lalu aku jemput ke kosan deh.
Jam7.30 ada ujian Penyuluhan dan Komunikasi. Dengan penuh semangat aku ngerjain sampe selese. Jam berikutnya kuliah statistika. Perutku mulai bereaksi tuh, laper. Mana kuliahnya ngerjain soal? Huh, laper kuadrat dah..
Selesei kuliah, aku sama Tisya memutuskan maem mie ayam di belakang kampus. Usai mesen, ngobrol2 lah kami.
“Tis, aku males ikut kuliah sosper..” Rengekku.
“Iah Ren, aku jugak. Ngantuk, panas, sumpek..” Sambung Tisa.
“Tapi kalo kagak kuliah takutnya ada kuis mendadak..” Aku sok mengingatkan.
“Ia juga yah? Ya udah ntar ngikut nenek sama rezt ajah..” Tisya memutuskan.
Singkat cerita, usai lah acara maem kami. Langsung dah cabut ke warnet. Lhadalah! Pas di warnet, si nenek sms ngajakin boloz sosper. Tambah dilema lah aku. Mana HIV (Hasrat Ingin Vivis) akut lagi. Ugh! Setelah diskusi sama Tisya, kami putuskan ke kosan nenek dulu nebeng sholat.
Eh, kosan kagak ada yang punya, pintu depan digembok. Tapi berhasil kami bobol. (hoho, jangan tiru adegan ini!)
Dengan pikiran yang dilema antara bolos dan masuk dengan alasan kedua2nya yang logis, aku sholat dah minta petunjuk (cieh, gaya amat yah?).
Setelah semua kelar, kami ke kampus lagi. Jam menunjukkan pukul 13.13WIB. Masih terngiang di telingaku bapaknya ngomong gini “Saya kasih toleran keterlambatan 10menit ya? Lebih dari 10menit ga boleh kuliah, dan saya suka ngasih kuis dadakan tanpa sepengetahuan kalian dan ga ada kuis susulan.” Oh my God! Tambah bingung kan mau masuk apa kagak. Sementara Anggun sama Rezt pada cabut, di hotspotan.
Tau2 dari belakang terlihat si Bella, Anin, sama Riska yang mau masuk kelas. Setelah ragu2, kami akhirnya ikut kuliah juga..
Hoho, and the winner is angel.. Masih ada sisi baik dalam diriku, haha
→ 1 CommentKategori: Uncategorized
Kisah Mengenaskan di Awal Semester
Maret 31, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar
Hari Senin, tanggal 16 Februari 2009, dimulailah semester keduaku di kampus. Aku berangkat dari rumah penuh semangat, dengan harapan, memulai hari pertama dengan indah. Pada waktu mengurus KRS (Kartu Rencana Studi) beberapa hari sebelumnya, telah ditetapkan bahwa NIM-ku masuk di kelas B. Dengan penuh semangat, aku masuk kelas B, dengan teman yang semua sudah ku kenal karena dulu semester I pernah sekelas.
Sambil menunggu dosen datang, aku, Tisya, Gea, dan Erlina bercakap-cakap di depan kelas. Tak lama kemudian, bu dosen datang. Kami masuk dan duduk di bangku belakang. Bla, bla, bla, dosen berkenalan, kuliah Ekonomi Pertanian, nyatet bentar sambil crita-crita sama anak-anak, berhubung dah lama nggak ketemu. Huuuaaaahmmm, ngantuk banget suasanane, dosennya juga ngomong nggak jelas.
“Tok… Tok…” Suara pintu diketuk. Ada seseorang nongol di sana. Pak petugas absen dateng, masuk, ngasih absensi kelas. Bu dosen (maap, lupa nama) berdiri dan mengedarkan absen dari pak petugas.
Singkat cerita, absen sampe di tanganku. Berhubung aku yang paling pojok, maka absen sampe di tanganku duluan daripada temen-temen. Aku buka cover, ternyata absennya urut NIM, dan nama sudah tertera. Hmmm, bagus. Karena NIM-ku biasanya paling bontot di kelas B, aku langsung mbuka halaman kedua dan membaca baris nama paling bontot: NANDA WIDHI.
Deg! “Tis…” panggilku pada Tisya yang duduk di sampingku.
“Apa Ren?”
“Kok nama kita nggak ada?”
“Hah?” Tisya kaget. “Yang bener?”
“Beneran deh, ni…” Aku menyodorkan absen ke Tisya.
Dia mengolak-alik halaman satu dan dua, dicek satu per satu, tapi tetep nggak ada.
“Ntar dulu Ren. Yang paling bawah Si Nanda, harusnya masih ada Nandika sama Nuria kan, baru kita?”
“Bener juga Tis… Trus???” Aku berpandang-pandangan sama Tisya.
“Ato jangan-jangan kita masuk kelas C?” Aku curiga.
“Mungkin aja.. Soalnya si Nandika sama Nuria juga nggak ada…”
Erlina sama Gea yang dari tadi bingung ngliatin kami ribut ikut urun rembug.
“Yoez, SMS temenmu aja yg di kelas C…”
“Yoh, aku SMS Resty ya…” Kataku.
Message sent.
Detik demi detik, menit demi menit aku menunggu balesan SMS Resty buat memastikan di mana kelasku. Lama tak juga dibales, aku mulai resah.
“Yodah, aku tak SMS Anggun.” Kata Tisya.
Dia ngambil HP di tas, nampak sibuk, lalu dengan muka pucat dia bilang “Ren, SMSe Anggun kie…”
Aku membaca huruf demi huruf SMS yang dikirimkan Anggun.
“Tis,, Namaq, Resty, Dita, sama Puri ada di kelasmu nggak? Soalnya di sini nggak ada… Nama kalian berdua juga kagak ada di absen kelas C, tapi Nandika sama Nuria ada…”
Deg! Masak aku nggak dapet kelas? Aku udah nggak konsen kuliah. Kenapa mesti kita ber6? Kenapa pas benget? Ada salah apa ya? Mbayar sudah.. KRSan sudah. Malah bareng-bareng sama temen laen. Tapi kok Cuma kami yang nggak ada?
Sumpah, pertanyaan itu terus-terusan mengganggu otakku. Jantungku berdebar-debar nggak karuan, nasiiib… Salah apa ya? Apa gara-gara insiden penganiayaan pada ulet bulu beberapa hari sebelumnya? Dasar ulet bulu pembawa sial. Udah nemplok di tas Puri, nemplok di jaket Resty, eh malah bikin kita sial. Huuugh…
Usai kuliah, aku diajak Nandika ke kelas C, tapi aku ragu, soalnya namaku nggak ada. Akhirnya aku memutuskan ke kantor jurusan sama Tisya buat mengkonfirmasi apa yang terjadi.
“Buk, maap, kami dari jurusan Agribisnis, kok nama kami nggak ada di daftar absensi kelas ya?” Tanya Tisya.
“Nggak ada gimana mbak?”
Kami menjelaskan panjang lebar duduk perkaranya. Akirnya ibuknya paham. “Coba cari dulu di absensi kelas A, B, C…” Katanya sambil menyodorkan absensi. Aku buka satu per satu, tapi nggak ada satupun yang tertera nama kami ber-6. Ibuknya memberi solusi. “Coba ditulis Nama sama NIM-nya di sini, biar saya cek-kan KRSnya.
Kami melakukan apa yang ibuknya perintahkan dan setelah KRS kami ber-6 diambil, langsung di cek di komputer pusat. KRS Tisya yang jadi percobaan. Di situ ada banyak list nama. Sampai di Alphabet ‘N’, NURUL IZATI S, diklik-lah nama itu, dan “Lhoh!” ibuknya kaget. “Kok kosong?” Tanyanya pada diri sendiri. Ibuknya memegangi dagu, nampaknya berpikir keras. “Aneh, sudah saya tandai harusnya sudah masuk di pusat, kok nggak ada?”
Diambilnya KRS berikutnya, punyaku. Namaku diklik, hasilnya keluar. Ibuknya geleng-geleng, nihil. KRS-ku juga kosong. “Mbak, ini kalo ngurus bisa lama, soalnya harus konfirmasi dulu sama atasan, jadi nggak bisa sekarang nentuin kelas.” Kata ibuknya. “Trus kira-kira kapan ya buk?” Tanyaku. “Ya, Insya Allah nanti siang mbak.”
Kami keluar ruang, dan terkatung-katung menanti nasib kelas. Nggak jelas banget, nasiiib. Siangnya kami balik ke kantor jurusan, dan resultnya, Tisya sama aku di kelas A, Resty sama Anggun di kelas B, Dita sama Puri di kelas C. Huuua, kita dipisahkan, kejam! Hikz…
Nasiiib, hari pertama udah kena sial…
Pesan: Jangan menganiaya ulet bulu kalo nggak pengen sial. Hohoho…
→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized
Bete
Maret 24, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar
Masak mo ngupload tulisan nggak bisa?
Uuuugh…
→ Tinggalkan KomentarKategori: Rak Cethooo
WARIS ELECTRONICS
Maret 10, 2009 · & Komentar


PROFIL
Alamat: Timur Terminal Babadan, Teloyo, Wonosari, Klaten
Ph Numb: (0271)624083, 085 647 113 831
Pemilik: Sis Rahmanto
SEJARAH SINGKAT
Toko ini didirikan sekitar tahun 1990an dan kala itu bertempat di daerah Daleman, Baki, Sukoharjo dengan mengontrak sebuah kios. Dahulunya, Pak Sis, yang ditemani istrinya mendirikan toko ini dengan modal seadanya dan bantuan dari kakek-nenek. Seiring berjalannya waktu dan atas kegigihan serta jerih payah dari suami-istri ini, toko mereka kini telah sukses meskipun belum bisa mendirikan kantor cabang. Alhamdulillah dengan rezeki dari Allah yang tiada pernah berhenti, kerja keras mereka berbuah hasil. Dari yang dahulu masih ngontrak kios dan nebeng hidup di rumah orangtua, kini telah berhasil membangun sebuah ruko yang saat ini ditempati. Dari yang dahulu hanya dengan Yamaha Alpha, sekarang sudah naek yang setir bunder. Bahkan, anaknya yang pertama sudah berhasil menjadi Sarjana Ekonomi, sementara anak keduanya sedang menempuh S1 di sebuah Perguruan Tinggi yang cukup ternama di Indonesia. Semua itu bisa dicapai dari jerih payah yang tiada henti dan adanya kemauan untuk hidup layak serta diakui oleh berbagai pihak. Dan hebatnya, toko ini dikelola sendiri tanpa bantuan karyawan. Horeee…
APA AJA SIH YANG DIJUAL?
Woooh, macem-macem. Mulai dari onderdil yang paling sepele dari barang-barang elektronika, kabel-kabel, speaker, kulkas, mesin cuci, televisi, DVD, dan masih banyak lagi.
HARGANYA??
Wooo, jangan salah… Walaupun letaknya di pinggiran peradaban, namun harganya miring kok.. Bahkan untuk penjualan barang yang harganya di atas Rp 100.000, bisa kredit lho… Tak ayal, konsumen maupun pelanggan tetap toko ini berasal dari berbagai daerah di Soloraya.
TRUS KALO MO KE SANA LEWAT MANA?
Kalo dari arah Solo, lewatnya Solo Baru aja… Tau pom bansin Pasti Pas di pertigaan Baki? Itu lurus aja arah ke Klaten, sampe lewat 2 jembatan. Jembatan yang kedua ada Pos Polisinya. Setelah sampe situ, pelan-pelan aja deh, liat kiri jalan, cari toko yang cat gerbangnya warna ijo. Tapi kalo dari arah Klaten kota maupun daerah Kartasura, lewat Pakis aja. Tau pertigaan Pakis? Itu lho, yang ada patung Pak Polisi berdiri dengan gagahnya? Itu lurus aja lewat sebelah patungnya, trus luruuus aja nurut jalan sampe ada terminal di kanan jalan, kalo udah, pelan-pelan aja, liat kanan jalan, cari toko yang cat gerbangnya warna ijo. Tertarik??? Selamat Mencoba.. Oiya, tambahan, yang nglayani ramah-ramah lho…
→ 2 CommentsKategori: Rak Cethooo
Demam Facebook
Februari 18, 2009 · 1 Komentar
Berhubung sekarang friendster sudah banyak yang make, jadi sering lemot jugak, hufh, menyebalkan.. Tapi, masih ada alternatif lain kok… Sebut saja Facebook. Sebenarnya ini udah lama, namun entah kenapa, baru booming sekarang… Malahan, ada lho, caleg yang kampanye lewat facebook ini…
hmmmm, berminat tapi belum punya? langsung aja klik ke sini. Naaah, kalo udah, add reny ya: renyfa_888@yahoo.com
gratiz koq… ^^
→ 1 CommentKategori: Rak Cethooo
9 April 2009
Februari 18, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar
9 April 2009, merupakan titik awal dimulainya pemilu legislatif untuk ikut menentukan nasib bangsa ini kelak. Masih bingung mau milih siapa di pemilu legislatif mendatang? Sama!!! Hehe…
Taun ini merupakan taun pertama saya ikut menentukan nasib bangsa Indonesia. Tentunya sebelum memilih, kita harus memikirkan dengan matang, siapa-siapa yang layak menjadi wakil rakyat kelak, yang berarti wakil kita semua.
Kampanye sudah dimulai jauh-jauh hari. Berbeda dengan pemilu tahun-tahun lalu, nampaknya kampanye pemilu taun ini bisa dibilang sepi. Jika dahulu, kampanye dilakukan dengan konvoi kendaraan bermotor yang menyerukan parpol mereka. Namun kali ini tidak ada. Jujur, saya tidak tau kenapa. Apakah sudah dilarang karena mengganggu, atau bagaimana?
Namun rupanya kampanye taun ini juga sangat buruk. Liat saja saat ini banyak sekali caleg-caleg yang “mempromosikan” dirinya lewat berbagai media. Jika media yang digunakan adalah media iklan televisi, iuuhhhh, sangat terhormat sekali. Sangat nampak jika dirinya mempunyai harta yang lebih. Jika dibandingkan dengan memajang gambar diri mereka di pohon-pohon. Kenapa bisa terjadi? Alasannya, mungkin biaya membuat poster lebih murah daripada iklan di televisi. Akan tetapi apakah hal ini sudah sesuai etika?
Lihat saja, buanyaak pohon-pohon tak berdosa yang menjadi korban kesewenang-wenangan mereka. Pohon juga makhluk hidup, bung! Anda pernah dengar cerita tentang makhluk penunggu pohon? Saat ini, penunggu pohon itu telah berubah. Tak tanggung-tanggung, satu pohon bisa ada empat penunggu, depan-belakang-kanan-kiri. Yang semuanya adalah wajah-wajah calon wakil kita.
Bagaimana mereka bisa menjadi wakil yang baik, jika tidak peduli lingkungan? Ingat global warming, bung! Dengan adanya pohon, kita bisa mengurangi resiko global warming. Tapi kenapa mereka disakiti??? Mungkin jika mereka dapat bicara, mereka akan menangis sedih karena telah diperlakukan semena-mena oleh manusia.
Kampanye memang diperbolehkan, tapi pliz deh, jangan pake cara seperti itu. Mungkin rakyat akan lebih merasa nyaman apabila ada caleg yang mau peduli dengan sesama. Mungkin cara kampanye dengan melakukan kunjungan ke tiap-tiap daerah akan lebih efektif, meskipun tidak efisien. Dengan dekat kepada rakyat, rakyat akan merasa para calon lebih bisa mengayomi dan peduli. Dan itulah yang kita cari.

Contoh gambar
Aku ambil dari depan rumah
Ini hanya opini, tidak bermaksud untuk menghasut. Keputusan saya serahkan kepada anda, selaku pemilik sah surat suara…
→ Tinggalkan KomentarKategori: opini
Sebuah Puisi Untukmu
Februari 4, 2009 · & Komentar
Mungkin aku terlalu mencintaimu
Mungkin aku terlalu menyayangimu
Hingga perasaan itu menyakitkanku
…
Meski mulutku mampu berkata tidak
Namun hatiku tak sanggup
Aku tahu jika perasaan tak bisa bohong
…
Mungkinkah semuanya berakhir?
Semua kisah indah yang pernah kita lukis
Semua kata yang pernah kita rangkai bersama
Mungkinkah hilang hanya karna sebuah ego?
…
Maafkan aku
Maaf atas segala salah dan khilafku
Maaf jika semua sia-sia
Bahkan kini air mataku pun jatuh sia-sia
…
Terima kasih
Terima kasih atas kenangan indah yang kita lalui
Terima kasih atas semua pengorbanan
…
Hanya ada satu hal yang akan tetap ada
Bagiku,,, kau tetap mOcha…
→ 3 CommentsKategori: Puisi
Kucing Yg Datang di Malam Pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1430 H
Januari 22, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar
Dia mengeong di atap rumahku.. Keras sekali.. Sesekali melihat ke bawah, mungkin dalam hati ingin turun, namun takut, cuz belum mengenal kami. Karena tak tahan, ayah menurunkannya. Pada awalnya dia ketakutan melihat anggota keluargaku. Akan tetapi, setelah terbiasa dan kami memberinya konsumsi, akhirnya dia luluh dan bener-bener jinak sesudahnya.
Sudah lama banget aq nyari-nyari kucing sebagai pengganti kucingq yg kini hilang entah berada di mana, Hikz… Dan yg aq cari tu kucing jantan, berwarna hitam-putih. Dan tanpa harus susah payah mencari, dia datang sendiri! Hoho…
Ada mitos bilang, jika kucing tu besar banget pengaruhnya. Doa dari kucing tu manjur. Apalagi dia datang di malam 1 Suro, yang kabarnya malam keramat pula. Yaaakh, semoga doa sipuz ini memberi berkah pada keluarga ini. Amiiiin….
Ni poto sipuznya…

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized