Kisah Mengenaskan di Awal Semester

Hari Senin, tanggal 16 Februari 2009, dimulailah semester keduaku di kampus. Aku berangkat dari rumah penuh semangat, dengan harapan, memulai hari pertama dengan indah. Pada waktu mengurus KRS (Kartu Rencana Studi) beberapa hari sebelumnya, telah ditetapkan bahwa NIM-ku masuk di kelas B. Dengan penuh semangat, aku masuk kelas B, dengan teman yang semua sudah ku kenal karena dulu semester I pernah sekelas.
Sambil menunggu dosen datang, aku, Tisya, Gea, dan Erlina bercakap-cakap di depan kelas. Tak lama kemudian, bu dosen datang. Kami masuk dan duduk di bangku belakang. Bla, bla, bla, dosen berkenalan, kuliah Ekonomi Pertanian, nyatet bentar sambil crita-crita sama anak-anak, berhubung dah lama nggak ketemu. Huuuaaaahmmm, ngantuk banget suasanane, dosennya juga ngomong nggak jelas.
“Tok… Tok…” Suara pintu diketuk. Ada seseorang nongol di sana. Pak petugas absen dateng, masuk, ngasih absensi kelas. Bu dosen (maap, lupa nama) berdiri dan mengedarkan absen dari pak petugas.
Singkat cerita, absen sampe di tanganku. Berhubung aku yang paling pojok, maka absen sampe di tanganku duluan daripada temen-temen. Aku buka cover, ternyata absennya urut NIM, dan nama sudah tertera. Hmmm, bagus. Karena NIM-ku biasanya paling bontot di kelas B, aku langsung mbuka halaman kedua dan membaca baris nama paling bontot: NANDA WIDHI.
Deg! “Tis…” panggilku pada Tisya yang duduk di sampingku.
“Apa Ren?”
“Kok nama kita nggak ada?”
“Hah?” Tisya kaget. “Yang bener?”
“Beneran deh, ni…” Aku menyodorkan absen ke Tisya.
Dia mengolak-alik halaman satu dan dua, dicek satu per satu, tapi tetep nggak ada.
“Ntar dulu Ren. Yang paling bawah Si Nanda, harusnya masih ada Nandika sama Nuria kan, baru kita?”
“Bener juga Tis… Trus???” Aku berpandang-pandangan sama Tisya.
“Ato jangan-jangan kita masuk kelas C?” Aku curiga.
“Mungkin aja.. Soalnya si Nandika sama Nuria juga nggak ada…”
Erlina sama Gea yang dari tadi bingung ngliatin kami ribut ikut urun rembug.
“Yoez, SMS temenmu aja yg di kelas C…”
“Yoh, aku SMS Resty ya…” Kataku.
Message sent.
Detik demi detik, menit demi menit aku menunggu balesan SMS Resty buat memastikan di mana kelasku. Lama tak juga dibales, aku mulai resah.
“Yodah, aku tak SMS Anggun.” Kata Tisya.
Dia ngambil HP di tas, nampak sibuk, lalu dengan muka pucat dia bilang “Ren, SMSe Anggun kie…”
Aku membaca huruf demi huruf SMS yang dikirimkan Anggun.
“Tis,, Namaq, Resty, Dita, sama Puri ada di kelasmu nggak? Soalnya di sini nggak ada… Nama kalian berdua juga kagak ada di absen kelas C, tapi Nandika sama Nuria ada…”
Deg! Masak aku nggak dapet kelas? Aku udah nggak konsen kuliah. Kenapa mesti kita ber6? Kenapa pas benget? Ada salah apa ya? Mbayar sudah.. KRSan sudah. Malah bareng-bareng sama temen laen. Tapi kok Cuma kami yang nggak ada?
Sumpah, pertanyaan itu terus-terusan mengganggu otakku. Jantungku berdebar-debar nggak karuan, nasiiib… Salah apa ya? Apa gara-gara insiden penganiayaan pada ulet bulu beberapa hari sebelumnya? Dasar ulet bulu pembawa sial. Udah nemplok di tas Puri, nemplok di jaket Resty, eh malah bikin kita sial. Huuugh…
Usai kuliah, aku diajak Nandika ke kelas C, tapi aku ragu, soalnya namaku nggak ada. Akhirnya aku memutuskan ke kantor jurusan sama Tisya buat mengkonfirmasi apa yang terjadi.
“Buk, maap, kami dari jurusan Agribisnis, kok nama kami nggak ada di daftar absensi kelas ya?” Tanya Tisya.
“Nggak ada gimana mbak?”
Kami menjelaskan panjang lebar duduk perkaranya. Akirnya ibuknya paham. “Coba cari dulu di absensi kelas A, B, C…” Katanya sambil menyodorkan absensi. Aku buka satu per satu, tapi nggak ada satupun yang tertera nama kami ber-6. Ibuknya memberi solusi. “Coba ditulis Nama sama NIM-nya di sini, biar saya cek-kan KRSnya.
Kami melakukan apa yang ibuknya perintahkan dan setelah KRS kami ber-6 diambil, langsung di cek di komputer pusat. KRS Tisya yang jadi percobaan. Di situ ada banyak list nama. Sampai di Alphabet ‘N’, NURUL IZATI S, diklik-lah nama itu, dan “Lhoh!” ibuknya kaget. “Kok kosong?” Tanyanya pada diri sendiri. Ibuknya memegangi dagu, nampaknya berpikir keras. “Aneh, sudah saya tandai harusnya sudah masuk di pusat, kok nggak ada?”
Diambilnya KRS berikutnya, punyaku. Namaku diklik, hasilnya keluar. Ibuknya geleng-geleng, nihil. KRS-ku juga kosong. “Mbak, ini kalo ngurus bisa lama, soalnya harus konfirmasi dulu sama atasan, jadi nggak bisa sekarang nentuin kelas.” Kata ibuknya. “Trus kira-kira kapan ya buk?” Tanyaku. “Ya, Insya Allah nanti siang mbak.”
Kami keluar ruang, dan terkatung-katung menanti nasib kelas. Nggak jelas banget, nasiiib. Siangnya kami balik ke kantor jurusan, dan resultnya, Tisya sama aku di kelas A, Resty sama Anggun di kelas B, Dita sama Puri di kelas C. Huuua, kita dipisahkan, kejam! Hikz…
Nasiiib, hari pertama udah kena sial…

Pesan: Jangan menganiaya ulet bulu kalo nggak pengen sial. Hohoho…

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: