Slgohimo, Eksotis Namun Mistis

Praktikum Sosiologi Pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 2009, dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 2009 dan bertempat di Kecamatan Slogohimo, Wonogiri. Sebuah Kabupaten yang terletak di eks karesidenan Surakarta ini mempunyai misteri tersendiri yang, wow, eksotis…

Perjalanan dimulai dari kampus tercinta pukul 7.30 WIB naik bus Langsung Jaya. Hanya dengan 2 jam perjalanan, kami telah melewati lintasan yang beragam, mulai dari jalan lurus, tikungan di mana-mana, muter-muter, naik turun. Yah, maklum, lokasi yang akan kami tuju termasuk di daerah dataran tinggi dan medan yang cukup sulit.

Setelah nyampe Kantor Kecamatan, 200an praktikan diterima dengan baik melalui upacara penyambutan oleh pak Camat. Usai penyambutan, kami dilepas di 17 desa di Kecamatan tersebut. Pembagiannya adalah, 1 desa ada 3 kelompok praktikan, 1 kelompok terdiri dari 5-6 orang. Kelompokku kebagian tempat Desa Soco yang letaknya nggak begitu jauh dari kantor kecamatan. Kami diantar dengan sebuah mobil yang disewa khusus untuk mengantar praktikan ke desa yang bersangkutan. Nah, berhubung 1 desa ada 3 kelompok praktikan, maka atas kebijakan Sekdes Soco, kami ditempatkan di 3 dusun berbeda.

Kelompokku yang terdiri dari aku, Anggun, Rani, Kiki, Mukhlas, sama Agus diturunkan di dusun Nusupan. Sesampai di sana, kami disambut oleh pak Kadus dan istrinya yang keduanya masih muda. Kami dipersilahkan masuk, duduk dan istirahat sejenak. Pak Kadus bilang “Maap ya Mas, Mbak, nanti nginepnya nggak di sini karena rumah ini sempit. Nanti saya bersihkan dulu rumah saya. Itu rumah baru, masih kosong, belum ada apa-apanya. Tapi dulu pernah ditempati.” Wuah, tinggal di rumah kosong? Ih, wow.. Tapi aku nyoba positif thinking.

Malam harinya, setelah tu rumah selesai dibersihin, kami ber-6 langsung diboyong ke situ. Kami cuma diberi kunci rumah saja. Begitu masuk tu rumah, kami langsung berkeliling. Bentuk rumah itu sih udah modern, atap juga bukan eternit lagi, tapi dari cor-coran semen. Dari luar, rumah itu penuh dengan pintu dan jendela yang kacanya tembus dari luar, jadi jika kita melakukan aktivitas apapun di dalam rumah, bisa langsung kelihatan dari luar. Rumah itu terletak di pinggir jalan utama yang menghubungkan antara desa satu dengan desa lainnya.

Bagian dalam rumah itu hanya ada 1 ruang utama yang langsung kelihatan dari luar tadi. Agak masuk, ada tangga bawah tanah, jika lurus lalu belok kiri adalah kamar tidur utama. Ruang ini agak besar, dan begitu aku masuk ke situ langsung kerasa hawa nggak enak menyergap. Dan rupanya bukan cuma aku yang ngerasa demikian. Langsung kutepis pikiran-pikiran aneh yang melayang-layang. Kami naik lagi lalu turun lagi ke tangga di seberangnya. Di situ juga ada kamar, tapi nggak begitu besar. Di samping kamar ada dapur dan kamar mandi. Di samping dapur, adalah gudang. Mukhlas mencoba membuka pintu gudang, dan Whuss, hawa nggak enak menyapaku lagi. Tubuhku hilang keseimbangan sesaat. Dalam gudang itu ada tubuh reog, tapi udah nggak ada kepalanya. Tiba-tiba Kiki menjerit dari dalam kamar utama. Kami langsung bergegas menuju ke sana. “Kenapa Ki?” Tanya Agus. “Aku nggak mau tidur di sini, aku takut…” “Kenapa?” Tanyaku lagi. “Itu ada lubang” Jawabnya sambil menunjuk pojok kamar.

Aku berjalan ke arah yang ditunjukkan Kiki. Tubuhku agak limbung lagi, namun masih bisa kutahan. Lubang itu berbentuk persegi dan tingginya seperutku. Bagian dalamnya seperti lorong yang berada di bawah tangga dan mengubungkan tangga satu dengan yang lain, namun pada bagian ujungnya juga tertutup, jadi hanya satu arah saja. Aku memperhatikan sekilas lubang itu terbuat dengan plesteran yang rapi seperti sudah direncanakan sebelumnya. Di sekitar lubang itu ada bercak-bercak noda, namun entah noda apa itu aku belum tau.

Karena hawa rumah itu tidak bersahabat, dan kayaknya nggak cuma aku aja yang ngrasain hawa-hawa mrinding itu, maka si Agus berinisiatif ngajak doa bersama agar kami dilindungi oleh Allah. Tapi karena uda terlanjur serem, yah kamar itu nggak ada yang nempatin. Kasur yang ada di kamar itu dipindah ke kamar satunya buat tidur cewek-cewek. Sementara cowoknya tidur di ruang utama. Malam pertama nggak ada apa-apa.

Esoknya, kami mulai berangkat mencari responden dari rumah ke rumah. Aku bergerak bersama Anggun. Sampai di salah satu rumah responden, kami ditanya “Kalian tidur di mana?” “Di rumah pak Kadus.” Jawabku. “Rumah pak Kadus? Emang muat?” Tanya bapaknya. “Oh, bukan pak, yang rumah kosong itu..” Jawab Anggun. Bapak itu terlihat kaget. “Kalian berani tinggal di situ? Dulu saya pernah tinggal di situ, tapi hanya semalem, soalnya saya nggak betah. Rumah itu serem lho dek.. Pak Kadus itu kan dulu pemain reog.” Bapak itu memperingatkan. Aku sama Anggun cuma tersenyum nggak jelas. Setelah kami rasa wawancara cukup, kami minta diri, pamitan.

Malam harinya, kami tidur dengan posisi yang sama kaya kemaren malam. Cuma malam ini pada nggak bisa tidur. Bukan gara-gara cerita respondenku tadi siang, tapi gara-gara denger ngoroknya temenku. Kami cekikikan nggak jelas. Aku ngrasa udah ngantuk lalu aku tidur.

Esok harinya, kami jalan-jalan menikmati hari teakhir di situ denganjalan-jalan ke sawah tersering. Subhanallah, indah banget, seger banget. Uh, tapi sayang, pas aku jalan, aku kepleset jatuh ke sawah. Hugz.. Puas jalan-jalan, kami pulang ke rumah itu, siap-siap, trus pamitan sama Pak Kadus, foto-foto, dan usailah praktikum yang melelahkan. Sampai di kantor Kecamatan, kami sempet kumpul bentar buat evaluasi. Di situ, Anggun baru ngaku kalo dia semalem “Liat”. Nggak taunya, si Agus juga melihat hal yang sama. “Dia” jalan dari arah gudang ke kamar utama dengan wujud bayangan putih cewek berambut panjang. Oh, apa boleh dikata, tempat itu emang eksotis namun menyimpan sejuta misteri.

Categories: Rak Cethooo | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: