Kebijakan Impor Beras

Dilema Impor beras sebenarnya sudah lama dan sampai sekarang, ternyata masih terus berjalan. Latar belakangnya adalah karena beberapa factor. Di antaranya, mungkin karena harga beras dari luar negeri relative lebih murah dan lebih bermutu daripada beras dari dalam negeri. Namun hal ini sangatlah tidak baik, karena dapat mematikan pasaran produk dalam negeri. Bagaimana kita bisa menghargai produk dari dalam negeri, jika beras saja harus mengimpor? Lalu, bukankah Indonesia terkenal sebagai Negara Agraris yang makmur sejak dulu? Kenapa sekarang Indonesia malah mengimpor beras? Tak tanggung-tanggung, pemerintah langsung mengimpor beras sebanyak ratusan ribu ton.

Keputusan pemerintah untuk melakukan impor beras menuai kritikan dan penolakan dari berbagai kalangan di daerah, mulai dari petani, LSM, mahasiswa dan tanpa terkecuali juga dari aparatur Negara. Mereka yang menolak, khawatir impor beras akan semakin menenggelamkan kehidupan petani yang terpuruk. Di sisi lain, hal itu menunjukkan tidak adanya program pembangunan yang konkret terhadap sektor pangan.
Kontroversional impor beras di Indonesia telah menjadi bahan perbincangan yang hangat. Bagaimana tidak, Indonesia adalah Negara yang kaya akan hasil bumi. Akan tetapi, kenapa untuk urusan nasi yang tiap hari kita santap saja perlu mengimpor berasnya? Sunguh ironis.

Ada beberapa alasan pemerintah mengimpor beras. Di antaranya:
1. Untuk menahan laju inflasi
Beras dianggap komoditi terpenting sebagai indikator pergerakan inflasi, karena beras merupakan makanan pokok sehari-hari rakyat Indonesia. Oleh karena itu diperlukan impor untuk menambah suplai beras agar dapat mengontrol harga dasar beras dan gabah pada umumnya. Sesuai hukum ekonomi supply berbanding terbalik dengan harga.
Namun hal ini tentu saja mengakibatkan efek yang tidak baik bagi para petani Indonesia. Karena harga beras dalam negeri tidak akan bisa menyamai harga beras impor. Akibatnya, banyak petani yang terlantar akibat berkorban bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.
2. Karena memang BULOG kehabisan stok beras.
Pada dasarnya produksi beras nasional cukup untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. Akan tetapi tidak ada stok cadangan untuk berjaga-jaga. Oleh karena itu perlu mengimpor beras untuk menutupi stok cadangan.
Hal ini tentu saja akan membuat asumsi lain bahwasanya Indonesia tidak mampu memproduksi beras sendiri dan hanya mengandalkan beras impor dari luar negeri.
Akan tetapi, pemerintah menyangkal hal ini. Mereka bilang, stok beras cukup untuk kebutuhan pokok bagi masyarakat sekitar. Mereka berdalih, mengimpor beras demi mengejar kenaikan inflasi.
Sebenarnya stock beras nasional ini berkurang, karena pihak bulog tidak melakukan upaya pembelian gabah dari kalangan petani atau koperasi-koperasi petani. Karena mereka hanya membeli padi dari pedagang dan pengusaha. Dan secara otomatis menimbulkan selisih harga yang tinggi dibanding harga dari petani. Dan jumlah yang dibeli bulog tidak memenuhi jumlah standart stock nasional. Oleh karena itu letak kurangnya stock Bulog sekarang ini adalah disebabkan karena lambatnya Bulog membeli gabah-gabah petani pada masa panen raya.
Alasan yang lain masih selalu sama dengan alasan-alasan sebelumnya yaitu seputar kekeringan, gagal panen, tingginya harga beras dalam negeri sehingga Bulog tidak sanggup membeli beras dari petani, dan yang terakhir adalah untuk menutupi cadangan beras pemerintah supaya aman dalam beberapa bulan kedepan.

Beberapa kejadian heboh terkait impor beras ini telah mengemuka di mana-mana. Antaranya adalah, kenaikan harga beras, berkurangnya petani (banyak petani yang beralih profesi ke bidang industri karena merasa dunia pertanian semakin lama semakin sempit), juga adanya penimbunan stok beras untuk dijual agar memperoleh keuntungan besar dari dampak kenaikan harga beras.

Ironis memang. Namun inilah yang terjadi dalam Negara kita. Para petani yang terlantar akibat dampak dari impor beras, yang merasa bahwa beras produksi dalam negeri tidak laku lebih memilih profesi lain yang lebih menguntungkan.
Akan tetapi, apabila petani Indonesia berhasil panen dalam jumlah yang amat besar, mungkin pemerintah tidak akan mengambil kebijakan impor beras. Hal ini tentu saja sulit, karena dalam bertani, tentu akan sangat banyak sekali dijumpai hambatan-hambatan, yang di antaranya adalah masalah irigasi, adanya hama dan penyakit, juga factor Sumber Daya Manusia yang semakin lama semakin berkurang jumlahnya.
Impor beras yang dilakukan pemerintah menunjukkan bahwa pemerintah tidak menaruh perhatian terhadap nasib petani, yang merupakan bagian besar dari masyarakat Indonesia. Karena bisa dipastikan begitu beras impor masuk, harga beras petani langsung anjlok.

Dampak dari impor beras ini tentu saja sangat dirasakan seluruh rakyat Indonesia. Mulai dari petani yang harus rela kehilangan pekerjaanya, sampai masyarakat pedesaan yang haruis rela mengganti makanan pokok mereka dengan sagu atau sejenisnya. Faktanya, rakyat makin menderita. Alih-alih menurunkan kemiskinan, impor beras hanya akan memindahkan rente ekonomi dari pemburu rente lokal kepada pemburu rente internasional dan korporasi agrikultur internasional. Lagipula, selain mengakibatkan tekanan pada harga gabah dan beras di tingkat petani, impor beras setidaknya akan menguras devisa negara, yang seharusnya bisa digunakan untuk kepentingan lain yang lebih mendesak.

Pertanyaannya sekarang adalah siapakah yang diuntungkan dengan impor beras itu? Yang diuntungkan adalah para pedagang antara di pasar beras internasional, serta industri-industri raksasa pertanian di negara-negara maju. Rente ekonomi dalam perdagangan beras akan menjadi sangat menggiurkan bagi pedagang dan spekulan beras.

Sebagai negara agraris sudah seharusnya bangsa ini terbebas dari persoalan krisis beras setiap tahunnya. Mengapa kita masih terus berkutat pada pengelolaan kebijakan di bidang pangan yang tidak jelas dari tahun ke tahun, hingga menjadikan bangsa ini terus berada dalam masalah, mulai dari serangan hama, banjir, kekeringan, kelangkaan dan melambungnya harga pupuk, hingga persoalan berkurangnya pasokan. Membuktikan bahwa pemerintah tidak mampu untuk mengelola system pertanian menjadi lebih baik. Kalau hal ini tidak segera diperhatikan maka kemungkinan besar bangsa ini akan terus mengimpor beras setiap tahunnya.

Categories: tugas kuliah | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: