My Trip to Medan with POPMASEPI

POPMASEPI (Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia) merupakan sebuah organisasi tingkat nasional yang menaungi Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian serta Agribisnis. Anggota dari POPMASEPI berjumlah + 60 Himpunan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Cerita ini bermula ketika aku mewakili KAMAGRISTA UNS mengikuti acara yang diselenggarakan oleh DPP (Dewan Pengurus Pusat) POPMASEPI yang diberi nama PKPP (Pekan Keprofesian dan Pengabdian POPMASEPI). Acara ini diselenggarakan oleh teman-teman USU Medan.

Pada awalnya aku ragu-ragu untuk ikut acara ini. Banyak pertimbangan-pertimbangan yang aku buat, mulai dari waktu, tenaga, dan tentunya uang yang akan kukeluarkan. Namun akhirnya dengan membulatkan tekad dan dengan izin orangtua, aku ikut berangkat ke Medan. Berbekal uang saku sekadarnya dari Fakultas, serta dari kantong sendiri, kami enam orang perwakilan dari UNS nekat berangkat ke Medan.

1. Senin, 21 Februari 2011
• Hari pertama petualanganku dimulai (yeee)
• Kami (Aku, -teman seangkatanku: Galuh, Mas Nur-, -adik tingkatku: Dani, Haris, dan Nadia) berangkat dari Solo naik kereta api Senja Utama pukul 6 sore.
• Semalaman di kereta kami tidur bergantian.
• Sampai Stasiun Purwokerto, naiklah temanku anak UNSOED (namanya Fawwaz) ke dalam kereta. Kami bertujuh berangkat bersama ke Jakarta.

2. Selasa, 22 Februari 2011
• Kami sampai Stasiun Pasar Senen Jakarta pukul 5 pagi. Setelah selesai sholat subuh, kami memutuskan untuk langsung berangkat ke Stasiun Gambir (kami ke Gambir dulu baru ke Bandara, kerana rute yang palin PW ya itu).
• Tak disangka-sangka, ternyata banyak calo yang menawarkan “tumpangan” kepada kami, entah itu ke Gambir atau langsung ke bandara. Akhirnya hanya Fawwaz yang naik taksi sama temennya juga (dia naik taksi karena berkorban bawain barang bawaan kami) sedangkan kami naik TransJakarta yang biasa disebut busway.
• kami berjalan mencari shelter terdekat, namun karena masih awam jadi deh muterin pasar senen buat nyari shelter itu. begitu ketemu, kami langsung pesan karcis, dan naik. Kondisi di dalam bis sangat padat dan penuh (maklum waktu itu masih pagi).
• Ga sampe 30 menit, kami sudah sampai di Stasiun terbesar di Jakarta: Stasiun Gambir. Setelah ketemu Fawwaz, kami putuskan untuk mencari sarapan di kantin stasiun. Tidak ada pilihan lain daripada nahan laper. Tapi ternyata harga yang ditawarkan memang sesuai dengan porsinya. Hanya dengan sepiring nasi goreng seharga Rp 13.000, perutku kekenyangan.
• Tiket pesawat ke Medan pukul 16.15, padahal sekarang masih pukul 9. Daripada cuma bengong di stasiun, kami putuskan untuk jalan-jalan ke Monas.

• Seturunnya dari Monas, waktu menunjukkan pukul 11. Langsung saja kami berangkat ke bandara, dengan asumsi di bandara nantinya bisa istirahat. Kami ke Bandara naik Damri yang khusus ke bandara. Dengan merogoh kocek Rp 20.000, dan memakan waktu 1 jam, kami sampai di bandara Soekarno-Hatta. Bandara internasional terbesar di Indonesia.
• Sesampainya di bandara, kami tidak langsung chek-in, melainkan menunggu Iswin dan Adib (kawan kami dari UGM) yang jadwal keberangkatan pesawatnya bareng sama kami.
• Jam 3 sore kami baru bisa masuk bandara, tapi ternyata pesawatnya delay sampai jam 6 sore. Sisa waktu aku manfaatkan untuk bersih-bersih diri.
• Jam 6 sore terbang ke Medan dengan Citilink Garuda. What a nice flight..  pemandangan sunset dari pesawat ternyata membawa keindahan tersendiri.

• 2 jam di pesawat, dan merasakan suhu -42oC di luar pesawat, jadi bikin kedinginan. Tapi semua itu terbayar lunas ketika pesawat hampir mendarat di bandara Polonia. Melihat kota Medan di malam hari dari atas, jadi kaya ngeliat di bukit bintang.. indaaah banget.
• Hanya terlunta-lunta setengah jam, kami bersembilan dijemput panitia dan dibawa ke rumah Ummul (salah satu panitia).
• Sempat bercangkerama sebentar sama teman-teman yang lebih dulu sampai di sana. Sebentar kemudian dipersilahkan makan malam dengan nasi goreng. Dari tampang sih meyakinkan, karena sama sekai ga keliatan ada cabenya. Tapi begitu masuk mulut sesuap, sumpah! Pedes minta ampun!
• Diajakin pesta duren (duren di sana murah banget, harganya 75% lebih murah daripada di sini), tapi gara-gara mata udah lengket pengen tidur, akhirnya kuputuskan untuk tidur saja..

3. Rabu, 23 Februari 2011
• Ketika bangun tidur, pukul setengah 6 pagi, bingung karena jam segitu baru adzan subuh. Belakangan aku tau, waktu sholat di sini terlambat 1 jam dari Solo. Sarapan pagi makan pedes lagi.
• Hari pertama rangkaian acara PKPP. Seminar nasional “Menggalakkan Potensi Tanaman Gaharu dari Hulu hingga Hilir”. Hari itu pertama kalinya melihat tari Tor-Tor secara langsung. That was great!

• Makan siang menunya pedes lagi. Tapi dapet kosakata baru: kereta = motor. Gimana bisa?
• Sehabis seminar, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk FGD.
• Di kelompok ini, aku kenalan sama teman baru yang lintas pulau. Abdil, Erwin, Boby, dll (saking banyaknya). Tentunya mereka berkompeten di bidangnya masing-masing. Kami berdiskusi sambil jalan-jalan di kampus USU.
• Malamnya, nginep di Mess Pertanian samping Asrama Haji. Sekamar sama teman-teman beda pulau lagi. Malemnya sarasehan sama pesta duren. Menu makan tetep pedes, untung ada abon sapi punya Nadia.

4. Kamis, 24 Februari 2011
• Pagi-pagi berangkat ke kebun Gaharu milik Prof. Kelin Tarigan di daerah Deli Serdang. Sebelum berangkat tentu saja sarapan dulu, pedes lagi!
• Jam 10 sampai di kebun Gaharu, foto bersama dulu, baru jalan-jalan keliling kebun. Jam 11 bertolak dari kebun Gaharu. Jam 12 istirahat makan siang di kebun binatang Medan. Sudah bisa ditebak, menunya pedes lagi.
• Selesai makan siang, lanjut perjalanan ke Desa Marjanji (Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai). Di pasar bengkel istirahat dulu, sholat dhuhur. Di sinilah aku merasakan rujak Medan. Rujak yang cukup aneh di lidahku, karena sambelnya pake kecap, bukan gula merah. Tapi aku suka sama buah jambunya. Selain rujak, ada dodol juga. Dodol di sini tidak dibungkus kecil-kecil gitu, tapi beli per kilo. Rasanya kenyal-kenyal gimanaaa gitu..
• Perjalanan ke Desa Marjanji memakan waktu 3 jam. Ketika sampai di Marjanji, kami disambut dengan baik. Desa Marjanji bukan desa yang tertinggal. Bahkan jalan yang melintasi tengah desa ini biasa dilewati truk dari perkebunan. Memang mayoritas daerah ini merupakan daerah perkebunan kelapa sawit, karet, dan kakao.
• Di desa ini aku tinggal di rumah pak kepala desa, bersama Galuh, kak Maya, Juli, kak Uni, Uty, kak Tiara, dan kak Ira. Tak ketinggalan pula panitianya, ada si Ummul, Sri, Asmi, sama si Uzul. Tidur bersama di satu kamar menjadi kenangan tersendiri bagi kami.
• Malemnya tetep makan pedes. Habis makan, jalan-jalan keliling desa. Desa yang asri. Berasa jatuh cinta sama desa ini.. hari ini ditutup dengan tidur nyenyak meskipun sempit.

5. Jumat, 25 Februari 2011
• Seperti pagi-pagi sebelumnya, menu sarapan paginya pedes. Hari ini kami berdiskusi lagi tentang Gaharu. Kali ini pake acara presentasi per kelompok. Makanya kami mati-matian berdiskusi sampe waktu habis.
• Selain diskusi, ada pula sesi sharing dengan petinggi Gaharu. Tak ketingalan pula ada prosesi penanaman Gaharu secara simbolik di desa ini. Waktu sharing inilah, aku merasakan “Teh” dari daun Gaharu. Jika ditanya rasanya, bisa kujawab: hambar. Namun konon, khasiatnya bisa mencegah kanker lho.. menarik juga ya?
• Makan siang yang pedes ditutup dengan teh Gaharu yang hambar. Sungguh kombinasi yang unik dan hanya ada di desa Marjanji..😀
• Selepas sholat Ashar, main-main dulu ke sungai. Sungai ini tidak lebih lebar dari Bengawan Solo, namun airnya jauh lebih jernih dan jauh lebih bersih. Semua peserta merasakan segarnya air sungai.

• Setelah puas berbasah-basahan di sungai, balik lagi ke penginapan, bersih-bersih badan. Malemnya, sekali lagi, buat makan pedes, aku harus jalan dulu sekitar 2 km. pengorbanan banget ga sih? Cuma buat makan pedes aja sampe kubela-belain jalan kaki.
• Makan malam selesai, jalan-jalan dulu ke Pekanan (pasar malem tiap hari Jumat). Ga beli apa-apa sih, cuma nonton-nonton doang, tapi asyik. Habis dari pekanan, perpisahan dulu sama warga desa. Baru bisa tidur nyenyak.. 

6. Sabtu, 26 Februari 2011
• Hari paling indah selama di Medan! Trip to Lake Toba and Samosir Island..
• Pagi-pagi sudah bangun, pamitan sama pak kades (sampai charger HP ku ketinggalan). Berangkat ke Toba pukul 7 pagi, dikasih sarapan pedes lagi (kali ini makanannya ga kumakan gara-gara perutku panas kebanyakan makan pedes).
• Perjalanan ke Toba makan waktu sekitar 5 jam. Danau toba dari kejauhan sungguh eksotis. Besar, itu yang ada di benakku. Lama menunggu kapal yang membawa kami ke Samosir. Ketika kapal itu tiba, kami langsung menempatkan posisi.
• Perjalanan ke Samosir menggunakan kapal adalah pengalaman baru buatku. Sungguh mengasyikkan berada di tengah-tengah danau yang berasa kaya di laut. Anginnya boo’! bergoyang di tengah kapal gara-gara diputerin music khas Medan. Perjalanan makan waktu satu jam, tapi sebelumnya sempet mampir dulu ke batu gantung (batu kaya stalagtit, menggantung di tebing). Pemandangan di bawah batu gantung sungguh eksotis! Susah menceritakan, baiknya lihat gambarnya aja. Yang menarik, anak-anak yang berebutan menyelam buat ngambil koin yang dilempar ke dalam danau oleh wisatawan.

dayung kanonya


berenang demi koin


indaaah

ini dia batu gantungnya


• Sampai juga di Pulau Samosir. It’s shopping time. Bener-bener belanja di sini, segala macam oleh-oleh khas Medan bertuliskan “Lake Toba” banyak dijual di sini. Bentuknya pun macam-macam. Ada tas, kaos, gantungan kunci, dll. Bahkan ada patung mini juga lho..
• Belom puas maen di Samosir, eh udah disuruh balik..  . alhasil cuma beli oleh-oleh seadanya deh.. yaah, lebih dari cukup lah. Sama kaya tadi, perjalanan makan waktu satu jam. Begitu tiba di tanah Sumatera lagi, langsung diberi makan (pedes lagi).
• Pukul 5 sore, kami balik dari Danau Toba menuju kota Medan. Perjalanan sekitar 7 jam, aku habiskan dengan tidur. Kecapekan. Hanya dua kali berhenti, buat istirahat di pasar bengkel sambil makan (tumben kali ini makanannya ga pedes). Yang satunya lagi di ATM. Sampai di penginapan sekitar pukul 1 malam, langsung cuci muka dan tidur.

7. Minggu, 27 Februari 2011
• Bangun pagi, mandi pagi, packing. Pesawat berangkat jam 10 pagi. Sudah rapi, tinggal berangkat, pamitan dulu sama teman-teman seperjuangan selama PKPP. Salaman sana sini, cipika cipiki.. perpisahan emang selalu menyedihkan!
• Diantar ke bandara pukul 8 pagi, sampai bandara jam setengah 9. Masih menanti rombongan (formasi lengkap 9 orang). Jam 9 lebih baru sempet chek-in setelah terburu-buru dan terbawa emosi gara-gara takut ketinggalan pesawat. Dengan sedikit berlari-lari, sampai juga di dalam pesawat. Kali ini pesawatnya ontime.
• Ketika pesawat mulai berjalan, terlintas kenangan indah selama di Tanah Sumatera ini. Ketika pesawat meninggi, dan meninggalkan kota ini, serasa ada yang hilang. Rupanya Medan telah menempati suatu tempat di hatiku. Pelan-pelan kota itu mengecil, menghilang, berganti awan. Bye Medan..
• Jam 12 siang, sampai juga di bandara Soekarno-Hatta. Tak banyak makan waktu lama, kami langsung berangkat lagi ke Gambir, naik DAMRI. Sampai di Gambir, nitip barang bawaan lalu cari makan, di depan Monas.
• Setelah kenyang, jalan-jalan lagi, ke Masjid Istiqlal. Dari Monas ke Istiqlal kami tempuh dengan berjalan kaki selama sekitar 15-30 menit (lewat jalan yang bener-bener muter). Istirahat sebentar di Masjid Agung itu sembari menunaikan sholat Ashar, barulah kembali ke Gambir. Tanpa lewat jalan muter, hanya ditempuh selama 15 menit jalan kaki.

• Bertolak dari Gambir ke Pasar Senen, ada yang naik taksi, sedangkan aku ikut naik Transjakarta. Kali ini berasa banget ngegembelnya. Dengan tampang yang udah buluk, kucel, dan capek gara-gara kebanyakan jalan, kami sempat menyita perhatian beberapa kelompok orang. Mengenaskan!
• Sampai di pasar senen pukul 6 sore, kami sempat bercengkerama sebentar karena kereta yang membawa kami pulang baru berangkat pukul setengah 9 malem.
• Dengan berangkatnya kereta yang aku tumpangi ke Solo, berakhir pula perjalananku kali ini. What a beautiful trip!

Perjalanan ke Medan ini tak pernah bisa kulupakan karena sangat sayang untuk dilupakan. Meskipun capek dan banyak bolos kuliah, tapi overall perjalanan ini keren, asyik, gokil, dan sangat berkesan. Semoga cerita ini dapat menghibur pembaca sekalian.

Categories: Uncategorized | 6 Comments

Post navigation

6 thoughts on “My Trip to Medan with POPMASEPI

  1. tanzil imanna putra

    nyesel deh aku gak ikut
    hiks

  2. Juniati Bakkara

    siiippp kan🙂

  3. sukopramono

    ya ya ya.. good..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: