Being a Single One

Single. Itulah saya sekarang. Sejak saya putus dari pacar saya 2 bulanan yang lalu, rasanya makin hari semakin saya nikmati kesendirian ini.

Bagi sebagian orang mungkin merasakan kesepian yang mendalam karena nggak punya pacar. Nggak ada lagi yang perhatian, nggak ada yang diajak kencan dan bla bla bla. Itu adalah pilihan. Ketika kita memilih untuk punya pacar dan berkomitmen, kita harus siap lahir batin.. ya mungkin sama ketika kita memutuskan untuk menikah.

Pacaran, selalu indah di awal. Kemana-mana bareng pacar, ngapa-ngapain pacar harus tau, blablabla. Ada yang indah di akhir, tapi tak sedikit pula yang merasakan pahit di akhir.

Namun gimanapun endingnya, jangan dilihat dari hasilnya melainkan prosesnya. Proses itulah yang sebenarnya bisa mendewasakan kita. Kalau happy ending sih seneng ya, bahagiaaa.. tapi kalau sad ending?? Banyak penyebab tentunya. Tapi intinya, inilah yang saya maksud sebagai proses pendewasaan diri. Inilah saatnya ketika kita diuji untuk menghargai orang lain (-mantan pacar-). Yaitu tentang bagaimana kita bersikap, bertutur kata, berperilaku yang wajar meskipun sebenarnya kita tersakiti. Kedengarannya memang munafik. Tapi justru dengan demikian kita telah menjaga hubungan baik dengan seseorang yang selama kurun waktu tertentu menemani kita saat suka dan duka. Coba, nggak enak kan kalau pada awalnya kenal deket, tau-tau jadi musuhan?

Oke, balik ke topik awal. Saya memutuskan single bukan karena saya masih mengharap kembali mantan saya, bukan karena saya nggak laku juga. Tapi karena prinsip. Saya merasa dengan sendiri, saya jadi lebih bebas berkarya dan saya bisa ngelakuin apa aja yang saya suka. Jujur saya ngrasa nggak nyaman ketika dilarang ini itu sama pacar. Bener sih maksudnya baik, tapi kesannya jadi lebay. Apalagi kalo pacarnya posesif, over protective, dan cemburuan. Nggak enak banget.. keluar rumah bentar aja udah disuruh pulang. Maen harus jelas kemana, sama siapa, ngapain aja, bla bla bla. Sms nggak dibales ngomel, telpon nggak diangkat ngambek, nggak mau diajak ketemu, marah.. ╮(“╯_╰)╭

Tapi sekarang rasanya saya bisa lebih menikmati hari tanpa kehadiran pacar. Banyak kegiatan positif yang bisa saya laksanakan tanpa dicurigai pacar. Saya bebas kesana-kemari dengan siapapun. Saya bebas mengekspresikan diri. Saya bebas berkembang. Dan saya BAHAGIA \(´▽`)/

Saya nggak tau kapan saya akan berhenti single. Yang jelas untuk sekarang saya nggak terobsesi nyari pacar. Biarkan dia datang dengan sendirinya di saat yang tepat. Karena saya yakin setiap orang pasti punya jodohnya sendiri-sendiri dan pasti akan dipertemukan oleh-Nya di saat yang PAS! Siapapun orangnya nanti, dia harus bisa ngerti dan paham bahwa saya tipe orang yang nggak bisa berdiam diri di rumah, yang selalu mencari-cari kesibukan, yang menyukai kebebasan, yang nggak suka dikekang, dan yang mungkin terlalu cuek.

Yang jelas sekarang saya sangat menikmati status single saya. Karena sekali lagi, ini hidup saya, ini pilihan saya, dan inilah saya.

Categories: opini | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Being a Single One

  1. sukopramono

    Hehe…

  2. hahay..ketauan..wkwkwkkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: