Cerita tentang Segelas Jus, Nasionalisme dan Indonesia

Ini cerita yang lumayan cukup lama ingin aku share. Tapi karena keterbatasan waktu dan aktivitas yang selalu menggunung akhir-akhir ini, makanya baru sempat juga sekarang.

Ceritanya, minggu lalu waktu aku sedang sibuk-sibuknya mengerjakan proyek (wawancara dengan masyarakat) di daerah Mangkunegaran Surakarta. Aku berhenti di salah satu kedai jus di pinggir jalan raya. Si bapak-bapak yang jualan jus ini kebetulan warga asli daerah situ. Mulailah aku wawancara dengan bapaknya sambil “nyruput” jus buatan beliau. Sesekali beliau juga membuatkan pesanan orang-orang yang mampir di kedainya itu.

Tak berapa lama, aku tinggal ngobrol santai dengan beliau sambil hahahihi. Lalu datanglah seorang perempuan muda, bule, cantik. Dia memberikan isyarat pada bapak itu, lalu bapak itu membuatkan jus pesanannya. Merasa ada kesempatan, langsung aku ajak ngobrol si bule cantik itu.

Dia adalah mahasiswa pindahan dari Hongaria yang mengambil program kuliah 1 tahun di ISI (Institut Seni Indonesia) Solo. Di bulan kelimanya di Solo, dia mengaku sangat menyukai kota kecil ini.

“Solo is lovely city. The people is so kind and Solo has many culture that I can’t stop learn.”

Wow, bahkan bule saja bangga pernah tinggal di Solo. Budayanya, tradisinya, keunikannya. Dia mengaku sering berkunjung ke Istana Mangkunegaran maupun Istana Kasunanan. Dia juga sangat menikmati perjalanannya dengan Sepur Kluthuk Jaladara dan wisata batik nya. Dia tak berhenti tersenyum ketika bercerita itu semua.

Terbersit bangga pada diriku. Negriku ini, tumpah darahku, kampung halamanku. Semua sebenarnya mempunyai potensi dan keunikan masing-masing untuk dikembangkan menjadi produk internasional yang mungkin bisa membuat nama Indonesia melejit. Bahkan orang-orang manca negara pun mengakui, Indonesia punya potensi. Negri elok nan eksotis yang terletak di garis khatulistiwa. Kondisi alam yang menakjubkan, dipadu dengan budaya yang kental dan beragam. Bagaimana bisa aku tidak cinta dengan negriku ini?

Pertemuanku dengan wanita Hongaria hari itu telah membuka pikiranku. Tentang bagaimana dan apa yang bisa aku lakukan untuk negriku. Bukan cuma dengan harapan, tapi tindakan. Ada banyak hal tentang Indonesia yang patut dibanggakan dan dicintai. Negri ini, akan tetap elok dan eksotis, budayanya, alamnya, jika masyarakatnya sadar dan menjaga warisan leluhurnya.

Di ujung percakapanku dengannya, dia bercerita pengalamannya ikut kirab “satu sura” yang menurutnya amazing. Lalu tak lupa pula dia mengucapkan selamat tahun baru Islam padaku.

Selepas kepergiannya, bapak penjual jus menghampiriku dan kembali bercerita tentang keindahan Indonesia. Ah andai saja tak ada tangan-tangan jahil dan oknum-oknum nakal yang merusak citra Indonesia di muka dunia. Ah andai saja….

Categories: opini | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: