Separuh Hati – Separuh Jiwa

Perasaan ini, entah kenapa sampai saat ini masih belum bisa enyah dari diriku. Rasa bersalah yang sedemikian besarnya, rasa malu yang tak terperi, dan rasa sungkan yang tak terlukis. Sulit untuk mengakui bahwa ini memang terjadi.

Sebuah goresan hitam tentang hati.

Ketika membuka halaman itu, dan menemukan nama-nama orang yang terlibat dalam kisah itu, hatiku serasa terbelenggu. Sulit untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Hanya layar berwarna lah yang menjadi saksi bisu kisah itu.

Sekian lama aku mencoba melupakan, mencoba kuat dan bersikap layaknya orang paling kuat di dunia. Tapi kenyataannya, aku hanya manusia. Seonggok daging bernama yang lemah akan godaan. Tak luput dari segala kesalahan.

Sejak itu, mulailah aku mengasingkan diri. Mengisolir diriku sendiri dari hiruk pikuk dunia luar. Dari kehidupan yang serba palsu. Membentengi diriku sendiri dengan egoku.

Menangis. Hanya dengan menangis dan menyesal tak akan mampu merubah nasib. Bahkan memperburuk keadaan. Meskipun tak ada lagi yang bisa kupercaya, setidaknya aku masih punya Tuhan. Dia selalu mempercayaiku, meyakinkanku bahwa di setiap sudut gelap hatiku ada secercah cahaya yang mampu menandingi hangatnya mentari sekalipun.

Jatuh bangun aku mencari cahaya itu. 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan, secercah cahaya itu menunjukkan perubahannya. Tidak langsung instan, melainkan melalui sebuah proses yang panjang. Hingga hari ke 90 tiba, cahaya itu mulai menghangatkan badanku. Mengingatkanku betapa cerahnya senyumku sebelum hal itu terjadi. Di situlah aku mulai bangkit. Kesadaranku kembali pulih. Aku mampu berpikir dengan jernih kembali.

Meskipun rasa sakit itu hingga kini kadang masih terasa dekat dan nyata, setidaknya ada beberapa hal yang mampu kuambil pelajarannya. Mengikhlaskan sesuatu apapun itu bentuknya, apabila memang bukan milikku, bagaimanapun aku menyimpannya dan menjaganya dengan nyawaku sekalipun, aku tetap tidak akan bisa memilikinya. Meskipun begitu, milik siapapun akhirnya setidaknya aku telah merawatnya sepenuh hati seolah itu memang milikku. Dan aku yakin, sesuatu yang memang milikku yang kini mungkin sedang dipinjam orang lain, pasti dirawat dengan baik oleh orang itu.🙂

Categories: opini | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: