SAKIT? SIAPA TAKUT?

Setelah sekian lama vakum dari blogging, aku mau sedikit cerita soal pengalaman pribadi yang cukup nggak mengenakkan yang kualami beberapa waktu yang lalu. Tapi maaf kalo setting cerita ini aku sensor, soalnya aku cuma pengen sharing pengalaman aja bukan pengaduan konsumen, hehehe.. Oke, langsung ke intinya aja.. simak yaaa….

 

Image

Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu aku ngerasa nggak enak badan di kantor. Karena udah merasa nggak kuat, aku ijin ke poliklinik (kebetulan di kantor aku ada fasilitas poliklinik). Aku bilang sama petugasnya mau istirahat sebentar ampe mendingan. Kira-kira sekitar 2 jam aku di klinik tadi soalnya badanku rasanya nggak karuan dan aku serasa nggak kuat jalan. Tubuhku sakit semua, kaya orang habis digebukin, badanku panas, mataku merah sembab kaya orang abis nangis, yap I’m totally sick!

 

Pas bel pulang kerja, aku turun dari ranjang trus inisiatif minjem termometer ama petugasnya buat ngecek suhu tubuh. Hasilnya, 38,6 DERAJAT CELCIUS. Waaah pantesan rasanya nggak karuan. Karena udah waktunya pulang, aku pamitan sama petugasnya untuk keluar. Wait, wait. Kenapa nggak ada tindakan medis? Itu kan poliklinik? Iya, emang itu poliklinik kantor, tapi kita masing-masing karyawan punya yang namanya kartu jaminan kesehatan (kartu ini fasilitas kantor juga, yang ngeluarin juga kantor, bukan askes jamsostek dll). Kartu ini ya sejenis lah sama kartu asuransi gitu, cuma yang ngeluarin cuma perusahaan tempat aku kerja dan udah kerjasama ama banyak klinik di sekitar kantor. Jadi nantinya kalo berobat ke klinik yang ditunjuk sambil bawa kartu itu, kita sama aja nggak ngeluarin duit sepeserpun. Ya kan? Sama kaya polis asuransi? Hehe, canggih kan kantor aku? :p

 

Ok ok, balik ke masalah awal. Kenapa aku nggak dapet tindakan medis di poliklinik itu? Ya karena di kartu aku tertulis poliklinik lain di luar kantor, jadi poliklinik kantor maksimal cuma ngasih bantuan obat kalo si pasien kritis di kantor (serem amat). Makanya aku pun juga nggak minta obat karena takut salah obat karena nggak ada adegan dokter-dokteran, toh kalo masih kaya gini juga aku masih kuat nahan kok. Udah kan tu, aku pulang ke kos jalan kaki kaya biasa. Jarak tempuh normal dari kos ke kantor dengan jalan kaki adalah 10 menit. Tapi kali itu hampir 20 menit baru aku tiba di kos. Sakit buat jalan. Beneran kaya digebukin rasanya.

 

Aku ngerasa emang udah saatnya aku periksa. Namanya juga anak kos, apa-apa sendirian nggak ada yang ngurusin jadi aku berusaha mandiri dan nggak nyusahin yang lain juga. Kebetulan emang aku penghuni yang pulangnya pasti paling awal, temen kosku yang lain paling awal itu jam setengah tujuh baru nyampe kos. Lha kalo aku nungguin pada pulang trus minta tolong? Aku takut nggak kuat. Apalagi pas itu cuacanya udah gelap, mendung. Akhirnya aku nekat, sendirian ngeluarin motor, berangkat ke klinik dengan kondisi tubuh yang sebenarnya udah nggak memenuhi syarat itu. Aku harus kuat, seenggaknya nyampe klinik dulu lah.

 

20 menit perjalanan. Jam 6 tet aku nyampe klinik. Pas aku markir motor, pas banget kliniknya buka. Alhamdulillah, aku pasien pertama🙂

 

Aku langsung menuju meja resepsionis (ah apalah itu namanya, pokoknya yang buat daftarin pasien) trus nanya bisa priksa apa enggak (ini pertama kalinya aku ke sini, alamatnya aja tadi minta ancer-ancer sama ibu-ibu poliklinik kantor dan sekali nyari Alhamdulillah ketemu nggak pake nyasar). Petugasnya bilang bisa trus aku disuruh nunggu sebentar. Nggak lama kemudian datang mas-mas petugas yang lain manggil buat nglayanin aku.

“Gimana, mbak?”

“Ini mas, aku mau periksa. Tapi aku ada kartu ini. Bisa kan?” Aku menyodorkan kartu itu.

“Oh bisa, tapi saya butuh fotokopiannya. Ada?”

Aku sama sekali nggak ada persiapan apa-apa soal fotokopian trus bengong.

“Gimana mbak? Ada nggak?”

“Eh nggak ada mas, aku nggak tau kalo harus pake fotokopian segala. Anu, bisa nyusul nggak?”

“Wah mbak, saya nggak berani tuh, soalnya kalo yang model beginian memang kita butuhnya fotokopi buat bukti klaim nantinya. Bla bla bla bla ……”

“Oh gitu ya mas? Ada fotokopian deket sini?”

“Ada, di sebelah sana, belok sini, depannya itu, nyebrang ke sana, masuk dikit, belakangnya itu”

Aku bengong ngeliatin masnya karena jujur aku nggak konek sama apa yang diomongin masnya barusan.

“Jauh mas?”

“Ya itu tadi”

“Berapa menit?”

“Ya 15 menit lah”

“………….” Aku bengong natap masnya dengan muka melas. Masnya cuma bisa ketawa.

“Yah mas, nggak bisa bantuin? Masa nggak bisa nyusul? Masnya nggak kasian sama aku? Udah jauh-jauh mendung-mendung ke sini lho..” Kataku melas (ini beneran melas, bukan dibuat-buat)

“Maaf mbak, ini sudah peraturan.. Bla bla bla bla….” Makin pusing aku dengernya.

“Yaudah kalo emang nggak bisa, nggak jadi pake ini aja!” Kataku niatnya ketus tapi malah kedenger makin melas (nasib!)

“Lho? Mbak? Serius? Nggak sayang? Nanti nggak dapet ganti lho.. Bla bla bla…”

Hash! Bawel ni masnya. Aku udah hampir sekarat gini bukannya segera dilayani malah diceramahi.

“Udah mas, nggak apa-apa. Aku bawa dompet kok. Lagian juga aku nggak yakin kalo kuat nyari fotokopian dulu.”

“Oh yaudah, tak registrasiin dulu ya..”

Dari tadi kek…..

 

Singkat cerita, selesai registrasi aku duduk di ruang tunggu. Masnya ngasih info dokternya baru dateng jam 6.30. Padahal sekarang jam 6.20 dan di luar hujan sudah turun dengan deras diiringi petir. Oh maan, today really is a bad day! Aku sendirian nunggu dokter bareng pasien yang lain. Kalo udah gini baru deh ngerasain enaknya di rumah. Kalo sakit ada yang ngerawat, ada yang nganterin ke dokter, nggak perlu susah payah berjuang sendiri. Ah, I must be strong!

 

Singkat cerita, dokternya dateng trus aku diperiksa. Aku cerita semua keluhan sakitku dan dokternya meyimak dengan seksama dan melakukan tindakan medis yang seharusnya dokter lakukan. Oke, adegan dokter-dokteran selesai aku dikasih obat dan disuruh istirahat total beberapa hari. Karena urusan sudah selesai dengan membayar Rp 50.000 yang untungnya aku masih punya beberapa uang cash untuk persediaan beberapa hari dan hujan sudah lumayan mereda, aku pulang dan langsung geletak di kasur karena udah nggak kuat ngapa-ngapain. Obat juga cuma aku geletakin tanpa sempet aku sentuh.

 

Esoknya aku dijemput bapak pulang dan dirawat dengan penuh kasih sayang oleh ibu setelah sebelumnya sempet dirawat beberapa temen kos yang dengan sukarela ngambilin air kompres dan ngebuatin teh hangat. Thank you…❤

 

Nah, dari sini, yang ingin aku garis bawahi adalah pelayanan. Pelayanan siapa? Petugas admin klinik itu tentu saja. Dia kan sering liat pasien, kondisi pasien yang beda-beda. Harusnya dia bisa tau si pasien ini sakitnya parah apa enggak, kritis apa enggak dsb. Di kasus aku ini, aku adalah pasien dan aku berhak mendapatkan pelayanan penuh dari si petugas itu. Tapi aku nggak ngerasa begitu.

Pertama, sebagai seorang tenaga medis, keselamatan pasien adalah nomor satu kan? Tapi dia malah nyuruh aku fotokopi sendiri kartu sehat itu dan jarak tempat fotokopi yang cukup jauh. Dan nggak ada toleransi fotokopiannya bisa nyusul. Tentu saja ini bisa membunuh secara perlahan si pasien, apalagi kalo saat itu aku nurut dan bener nyari fotokopian, malah nggak bisa balik lagi ke klinik lha wong hujan deres banget.

Kedua, dia pekerja sosial.  Kenapa? Jelas, karena dia melayani banyak orang. Seharusnya dia punya jiwa kemanusiaan yang tinggi. Dia ngeliat aku dengan bibir pucat, muka merah dan mata merah saking tingginya suhu tubuhku tapi masih tega nyuruh fotokopi sendiri dan nggak ada toleransi (eh loh kok sama? hehe, emang intinya sama cuma pointnya aja yang beda). Harusnya, dia tau kebutuhan pasien dan mampu memberikan perasaan nyaman kepada si pasien itu. Peraturan memang dibuat untuk mengikat. Tapi kalo menyangkut nyawa dan keselamatan orang, apa peraturan benar-benar harus dipatuhi? Aku rasa nyawa bukan mainan.

 

Banyak potret suram dunia kesehatan Indonesia. Ada yang pasien ditolak gara-gara nggak bisa bayar, ada yang malpraktek, dll dsb. Aku semakin heran, kenapa semakin banyak manusia yang jiwanya cacat? Diperbudak materi, mengesampingkan kemanusiaan hingga nyawa yang jadi korban. Tragis. Tapi itulah kenyataannya. Cuma orang berduit yang bisa menikmati fasilitas kesehatan. Sedangkan yang miskin? Makin terpuruk oleh keadaan.

 

Adanya berbagai macam asuransi dan kartu kesehatan yang sekarang sudah banyak jenisnya, sebenarnya bisa dikatakan sebuah kemajuan karena yang miskin pun bisa berobat. Tapi, sekali lagi semua itu terikat oleh banyak peraturan. Harus ini harus itu, banyak pasal-pasal, ayat-ayat yang bahkan isinya apa aja, kita nggak tau. Ujung-ujungnya, peraturan ini mempersulit dan menghambat juga. Seharusnya pasien sudah bisa ditangani tapi harus menunggu A cair, nunggu B dateng, C harus tandatangan, berkas kurang dll dsb. Buntutnya, pasien makin kritis. Siapa yang salah?

 

Kalau saja mereka sadar, pekerjaan mereka itu mulia. Kalau saja mereka sadar, nyawa orang-orang ada di tangan mereka. Ah tapi mereka pasti sadar kok. Hanya pura-pura menutup mata akan kenyataan. Mereka lebih takut pada atasan mereka yang membuat segudang peraturan yang mengikat yang kalo nggak ditaati mereka bisa kena semprot bahkan kehilangan pekerjaan. Tapi kenapa mereka tidak takut pada pencipta mereka? Bukankah sejak SD kita sudah diajarkan untuk mengutamakan keselamatan orang dan membantu orang? Kenapa begitu memasuki dunia yang sesungguhnya mereka tidak mengamalkannya? Lupakah?

Ah seandainya, seandainya orang-orang yang berprofesi sebagai pelayan kesehatan itu semuanya berhati malaikat dan benar-benar menomorsatukan pasien🙂

 

Tulisan ini aku buat bukan untuk memprovokasi, hanya sedikit menuangkan tanda tanya di pikiranku. Mungkin bisa juga jadi bahan renungan bagi rekan-rekan yang sudah mempunyai atau calon profesi tenaga kesehatan apapun itu, baik langsung maupun tidak. Semoga tulisan ini bermanfaat dan mampu membuka pikiran kita.

Categories: Uncategorized | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: