Ketika Aku Memutuskan Menikah

24 Desember 2014,

3 hari menjelang prosesi sakral itu. Entah bagaimana perasaanku campur aduk antara seneng, sedih, gugup, siap ga siap. Aaaaaa….

Keputusan ini memang sebuah keputusan terbesar dalam hidupku. Bagaimana tidak, memutuskan menikah berarti memutuskan untuk hidup bersama seorang pria yang awalnya bukan siapa-siapa. Bagaimana nanti proses adaptasi itu, bagaimana nanti kalau ini itu, ah banyak sekali keraguan-keraguan yang harus aku hadapi sebelum memutuskan menikah.

 

Mas Calon Suami

Dia ini temen SMA, dulu pernah sekelas. Kepisah jarak karena kami kuliah di kota yang berbeda. Sejak awal hubungan kami sudah menjalani yang namanya LDR. Banyak badai menerpa, gonjang ganjing, hubungan yang retak, banyak kisah, cerita, canda, tawa yang kami lalui bersama. Rasa cinta di awal yang lama kelamaan memudar dan berubah menjadi addiction seperti sekarang ini.

Dia adalah tipe lelaki yang sabarnya ga ketulungan. Sering banget aku jahilin, aku bohongin, aku suruh-suruh, tapi dia cuma diam dan ngelus dada. Meski kadang marah sih kalau akunya kelewatan :p . Mas ini juga tipe pria penyayang. Dia paling ga tahan kalau aku harus tersiksa. Sering dia korbankan dirinya demi melihatku tersenyum dan nggak ngambek lagi.

Setia. Selama masa hidupnya, akulah pacar pertamanya dan boleh dijamin dia nggak ganjen. Bukan pula tipe cowok yang suka tebar pesona. Mukanya sih pas-pas an makanya jarang ada cewek ngelirik :p

Misterius & Cuek. Barangkali inilah yang membuat aku jadi penasaran sama dia. Awal dia PDKT, seneng banget tarik ulur dan bikin penasaran. Kadang sih suka gemes sama dia yang over cuek dan nggak peka. Kalo ngomong sama dia memang harus to the point, karena sering aku kasih kode-kode malah dia nggak paham, jadinya aku sebel sendiri. Sering banget aku ngambek cuma gara-gara dia nggak paham sama kode-kode itu.

Si Mas bukan tipe cowok romantis yang suka ngasih bunga, coklat, ngirim puisi, ngrayu-ngrayu, nggombal-nggombal. Dia punya caranya sendiri untuk mencintaiku. And I just Love it!

 

Proses

Terus terang, awalnya aku nggak berniat serius dengan si Mas. Awalnya aku hanya menjalani hubungan tanpa tujuan yang penting hore. Sampai pada satu titik, beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun ketiga kuliah, dia menyatakan keseriusannya padaku. Si Mas janji, mau lulus on time, trus nyari kerja, mapan, ngelamar aku. Dia pasang target sebelum ulang tahunnya ke 25 harus udah nikah.

Aku hargai niat baiknya, lalu kami saling dukung. Alhamdulillah target itu tercapai satu per satu. Si Mas lulus sarjana umur 22, langsung kerja di Ibukota dengan pendapatan yang lebih dari cukup dan dia menepati janjinya untuk melamarku. Aaaaaaaa

 

Lamaran

Bulan Ramadhan tahun ini, habis nonton Transformer, dia resmi memintaku jadi istrinya. Bukan dengan cara romantis. Dia hanya cerita-cerita seputar kerjaannya, dan tau-tau ngajakin aku nikah😀 lucu emang si Mas. Muka seriusnya waktu itu bikin aku pengen ketawa, hahaha.

Singkat cerita, karena dia memang sudah serius, malem itu juga dia langsung memintaku dari kedua orangtuaku. Alhamdulillah Bapak Ibu juga langsung merestui. Lebih singkat lagi, seminggu setelah omongan serius Si Mas dengan bapak ibuku, tepatnya tanggal 2 Agustus 2014, keluarga besar si Mas datang ke rumah dan kami resmi bertunangan.

 

Penentuan Hari

Penentuan hari ini lebih simpel dari yang kukira. Soalnya nggak pake hitung-hitungan Jawa karena pada dasarnya semua hari itu baik. Penentuan hari ini dimulai dari si Mas yang ngasih ancer-ancer kalau tahun ini dia hanya bisa di akhir tahun karena pekerjaannya. Si Mas ngasih waktu antara libur Natal – Tahun Baru. Setelah diskusi panjang lebar, akhirnya dipersempit antara tanggal 27 atau 28 Desember. Mulailah kami hunting-hunting gedung untuk resepsi. Ternyata, dua tanggal itu banyak dipilih calon nganten untuk resepsi makanya cari gedung pun agak susah buat kami mengingat waktu yang kami punya hanya 3 bulan. Akhirnya, diperoleh gedung dan fix tanggal 27 Desember 2014. Alhamdulillah..

 

Sekarang hanya tinggal 72 jam lagi menjelang 27 Desember itu. Persiapan sudah 90%. Semoga kegalauan ini berubah menjadi keyakinan. Sebuah keputusan besar yang aku ambil, semoga ini adalah keputusan yang tepat dan kelak aku tak akan menyesalinya.

Alhamdulillah diberikan kelancaran hingga detik ini. Niat baik kami, untuk menggenapkan setengah agama kami, diridhai Allah. Semoga tetep lancar hingga hari H.

Cerita yang lain akan aku post segera^^

Categories: Wedding | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: